CIANJUR – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sawah Gede 4, Kecamatan Cianjur, menuai sorotan. Program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi anak sekolah itu diduga belum sepenuhnya dijalankan sesuai standar, khususnya pada momentum Idulfitri, Rabu (25/2/2026).
Sorotan mencuat setelah sejumlah siswa SDN Dipawangi menerima paket MBG dengan menu yang dinilai belum memenuhi prinsip gizi seimbang dan berpotensi menimbulkan keluhan kesehatan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, menu MBG selama dua hari berturut-turut berbeda, namun sama-sama menuai keluhan dari orang tua siswa.
Pada Senin, siswa menerima kurma, bubur kacang hijau, roti, serta santan. Sementara pada Selasa, paket MBG berisi abon, kurma, susu, dan nasi ketan.
Salah seorang orang tua murid, Deri Lesmana, menilai kualitas dan porsi makanan tersebut tidak sebanding dengan anggaran yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kalau dilihat dari isi dan kualitasnya, jelas tidak sampai Rp15 ribu,” ujarnya.
Guru SDN Dipawangi, Renim, menjelaskan bahwa berdasarkan pengamatan pihak sekolah serta keluhan orang tua, menu MBG selama dua hari itu memang belum memenuhi standar pemenuhan gizi seimbang.
“Untuk menu dua hari itu memang belum melengkapi unsur gizi seimbang. Masih ada kekurangan, terutama pada unsur protein dan karbohidrat,” kata Renim.
Ia menegaskan pihak sekolah tidak terlibat dalam penentuan menu. Sekolah hanya bertugas menyalurkan makanan sekaligus menyampaikan keluhan orang tua kepada pihak SPPG.
“Kami hanya menyampaikan aspirasi dari orang tua. Setelah ada komplain, menu berikutnya sudah kembali normal,” tambahnya.
Menu Selasa berupa nasi ketan turut menuai kritik. Selain dinilai minim protein dan serat, nasi ketan juga dikenal lebih sulit dicerna dan dalam pemahaman kesehatan masyarakat kerap dikaitkan dengan risiko panas dalam jika dikonsumsi berlebihan, terutama oleh anak-anak.
Orang tua menyayangkan pemilihan nasi ketan yang dinilai lebih bernuansa makanan khas hari raya, namun kurang mempertimbangkan kebutuhan gizi harian siswa sekolah dasar.
Keluhan lain datang dari menu bubur kacang hijau yang dibagikan pada Senin. Renim menjelaskan makanan tersebut didistribusikan sekitar pukul 09.30 WIB.
Namun karena mayoritas siswa sedang menjalankan ibadah puasa, makanan baru dikonsumsi saat waktu magrib.
Rentang waktu penyimpanan selama berjam-jam tanpa pendingin memadai menimbulkan kekhawatiran orang tua. Sejumlah wali murid melaporkan perubahan aroma dan rasa pada bubur kacang yang diduga akibat proses fermentasi alami.
“Ada laporan dari orang tua soal bubur kacang yang diduga basi. Kami sarankan jika dirasa aneh, sebaiknya tidak dikonsumsi,” ujar Renim.
Sementara itu, Kepala SPPG Sawah Gede 4, Krisnawan, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penerima manfaat atas menu MBG yang dinilai tidak sesuai.
“Kami mohon maaf atas kekeliruan menu yang kami pilih. Ini menjadi bahan evaluasi agar ke depan bisa lebih baik lagi dalam membangun gizi anak Indonesia,” katanya.
Kasus ini ramai diperbincangkan di media sosial setelah sejumlah warga mengunggah foto serta keluhan terkait menu MBG. Masyarakat mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait melakukan evaluasi menyeluruh serta memperketat pengawasan, terutama pada aspek standar gizi dan keamanan pangan.
Program yang menyangkut kesehatan dan tumbuh kembang anak dinilai tidak boleh dijalankan sekadar formalitas atau penghematan anggaran, terlebih jika berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi peserta didik.






