CIANJUR, reaksinusantaranews com – Persoalan sampah di Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang, yang sempat viral dan memicu keresahan warga, akhirnya mendapat respons serius. Forkopimcam Cugenang bersama pemerintah desa, aktivis lingkungan, dan masyarakat turun langsung ke lapangan melakukan evakuasi serta pembersihan sampah di sejumlah titik, Kamis (8/1/2026).
Aksi kolaboratif tersebut menjadi jawaban atas keluhan warga yang selama ini menilai persoalan sampah dibiarkan tanpa penanganan nyata. Sampah rumah tangga yang menumpuk di area terbuka dan pinggir jalan sebelumnya sempat menimbulkan bau tidak sedap serta kekhawatiran dampak kesehatan dan lingkungan.
Camat Cugenang, Ali Akbar, mengapresiasi kepedulian masyarakat dan aktivis lingkungan yang terlibat langsung dalam aksi bersih-bersih tersebut. Menurutnya, sinergi lintas unsur merupakan langkah awal penting untuk menyelesaikan persoalan sampah yang bersifat kronis.
“Alhamdulillah hari ini kita bersama-sama turun ke lapangan melakukan operasi bersih-bersih sampah di beberapa titik Desa Cibeureum. Ini bentuk kepedulian bersama,” ujar Ali.
Namun demikian, Ali menegaskan bahwa penanganan sampah tidak boleh berhenti pada aksi seremonial semata. Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif masyarakat agar persoalan serupa tidak terus berulang.
“Jangan sampai sampah yang kita bersihkan hari ini, besok menumpuk lagi. Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama,” tegasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kecamatan Cugenang mendorong pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) sebagai sistem pengelolaan sampah yang lebih terarah dan berkelanjutan.
“Ke depan harus ada penyelesaian sistematis. Salah satunya dengan menyiapkan TPS3R di wilayah Kecamatan Cugenang,” jelas Ali.
Sementara itu, Kepala Desa Cibeureum, Asep Nahdoh, mengakui bahwa pembangunan TPS3R membutuhkan anggaran yang tidak sedikit dan harus melalui mekanisme perencanaan sesuai regulasi, termasuk melalui Musyawarah Desa (Musdes).
“Semua harus sesuai mekanisme. Dari musyawarah dusun, kemudian dibawa ke Musdes, baru bisa kami anggarkan,” kata Asep.
Ia menambahkan, persoalan sampah bukan hanya terjadi di Desa Cibeureum, melainkan menjadi masalah hampir di seluruh wilayah. Oleh karena itu, selain pembangunan infrastruktur, diperlukan keterlibatan generasi muda agar pengelolaan sampah memberi nilai tambah ekonomi.
“Kami ingin para remaja ikut mengelola sampah. Kalau dikelola dengan baik, sampah justru bisa bernilai ekonomi dan membuka peluang usaha,” ujarnya.
Di sisi lain, Aktivis Lingkungan Cugenang, Azam, mengapresiasi langkah cepat Forkopimcam dan pemerintah desa. Ia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pembenahan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan efektif.
“Saya akan terus mendorong penataan pengelolaan sampah di Cibeureum. Sampah ini masalah global, bukan persoalan sepele,” tegas Azam.
Azam juga mengungkapkan rencana bersama GMBC untuk mengembangkan pengelolaan sampah dalam skala kecamatan melalui pembangunan TPS3R terintegrasi, yang akan dikomunikasikan hingga ke tingkat provinsi.
“Idealnya satu TPS3R bisa melayani satu kecamatan. Ini akan kami bahas dengan dinas terkait,” ungkapnya.
Ia turut mengkritisi mahalnya biaya pembuangan sampah ke TPA Cikalong yang dinilai memberatkan. Menurutnya, pengolahan mandiri berbasis inovasi dapat menjadi solusi alternatif yang lebih efisien dan bernilai ekonomi.
“Sampah plastik bisa diolah jadi biosolar atau paving block, sedangkan sampah organik bisa dimanfaatkan untuk budidaya cacing. Ini bukan wacana, tapi peluang nyata,” paparnya.
Azam berharap kolaborasi yang terbangun saat ini tidak berhenti pada aksi sesaat, melainkan berlanjut menjadi sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan demi menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat Cugenang.






