CIANJUR | reaksinusantaranews.com – Angka meluarga beresiko stunting (KRS) di kabupaten Cianjur dikabarkan mengalami penurunan sangat drastis, bahkan Cianjur kini menjadi kabupaten yang terendah prevalensi stuntingnya di Jawa Barat.
Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Cianjur Nurdiyati seusai kegiatan Ngaprak Mendakan Keluarga Beresiko Stunting di Kampung Lebakpasar, Desa Palasari, Kecamatan Cipanas, Kamis (16/10/2025). Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Cianjur.

“Saat ini Kabupaten Cianjur prevalennsinya di angka 7,3 yang sebelumnya 26,” ujar Nurdiyati kepada wartawan.
Menurut Nurdiyati, keberhasilan itu berkat kerja sama seluruh OPD yang menganggarkan untuk membantu penurunan stunting serta dukungan dari berbagai pihak.
Ia menyebutkan dari 32 kecamatan, KRS paling banyak di wilayah Cianjur bagian utara, penyebabnya kekurangan gizi banyak dialami anak remaja wanita sebelum nikah. “Ketika hamil berpengaruh terhadap bayinya, setelah melahirkan bayi masa seribu hari menjadi rawan terjadi stunting,” katanya
Upaya yang dilakukan untuk berlanjut hingga zero stunting, salah satunya kegiatan Ngaprak Mendakan KRS termasuk Quick Win Launching Kemenduk Bangga. Juga dengan meluncurkan program Genting (Generasi Orangtua Asuh Cegah Stunting), Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak), Gati (Gerakan Ayah Teladan Indonesia ), Sidaya (Lansia Berdaya ) dan program AI
“Program AI yaitu super APPs yang merupakan beberapa aplikasi kegiatan yang dilaksanakan oleh kita berdasarkan instruksi litbang,” katanya.***






