BEM PTNU Se-Nusantara buka posko khidmah, sediakan tempat istirahat dan makanan gratis bagi muktamirin

Daerah14 Dilihat

Jombang — Ada banyak cara untuk hadir di Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35. Sebagian datang membawa gagasan, sebagian membawa aspirasi, dan sebagian lainnya hadir untuk menyaksikan arah masa depan organisasi.

Namun, Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Se-Nusantara memilih cara yang berbeda: datang untuk melayani.

Di tengah hiruk-pikuk Muktamar NU ke-35, BEM PTNU Se-Nusantara membuka posko khidmah yang menyediakan tempat istirahat serta makanan dan minuman secara gratis bagi para muktamirin.

Bagi BEM PTNU, fasilitas tersebut bukan sekadar bentuk pelayanan teknis. Lebih dari itu, ia merupakan simbol dari tradisi panjang Nahdlatul Ulama: berkhidmah kepada umat tanpa banyak bertanya siapa yang akan mendapatkan manfaatnya.

Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi, mengatakan bahwa mahasiswa NU harus belajar memahami khidmah bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai tindakan nyata.

“Kami hadir bukan hanya untuk meramaikan Muktamar. Kami ingin mengambil bagian dalam memberikan pelayanan kepada para muktamirin. Sesederhana menyediakan tempat istirahat dan makanan gratis, tetapi bagi kami itu adalah bentuk cinta dan khidmah kepada NU,” ujar Achmad.

Menurutnya, mahasiswa sering kali identik dengan kritik, demonstrasi, diskusi, dan perdebatan gagasan. Semua itu penting. Namun, ada dimensi lain yang tidak boleh hilang dari gerakan mahasiswa NU, yakni pengabdian.

“Mahasiswa boleh kritis, boleh berbeda pandangan, boleh berdebat tentang masa depan NU. Tetapi jangan sampai kita kehilangan tradisi dasar: membantu, melayani, dan memberikan manfaat,” tegasnya.

Muktamar Bukan Hanya Soal Forum, tetapi Juga Persaudaraan

BEM PTNU memandang Muktamar NU ke-35 sebagai momentum penting untuk memperkuat persaudaraan seluruh elemen Nahdliyin.

Karena itu, posko khidmah sengaja dibangun sebagai ruang terbuka bagi para muktamirin untuk beristirahat, makan, berbincang, dan bersilaturahmi.

“Kadang yang dibutuhkan seorang muktamirin setelah mengikuti rangkaian forum yang panjang bukan pidato panjang, tetapi tempat untuk duduk, secangkir minuman, makanan, dan teman untuk berbincang,” kata Achmad.

Ia menyebut suasana seperti itu justru merupakan bagian penting dari kultur NU.

“NU tumbuh bukan hanya dari forum resmi. NU juga tumbuh dari silaturahmi, ngopi, makan bersama, saling membantu, dan bertemu dari hati ke hati. Di situlah tradisi NU hidup,” lanjutnya.

Dari Kampus untuk NU, dari NU untuk Indonesia

Kehadiran BEM PTNU di Muktamar ke-35 sekaligus menjadi pesan bahwa mahasiswa NU ingin mengambil posisi sebagai bagian dari masa depan organisasi.

BEM PTNU tidak ingin mahasiswa hanya menjadi penonton dalam perjalanan NU. Sebaliknya, mahasiswa harus dipersiapkan untuk menjadi generasi yang mampu meneruskan tradisi sekaligus menjawab tantangan baru.

“Generasi muda NU tidak boleh hanya mewarisi simbol. Kita harus mewarisi nilai, kemudian menerjemahkannya dalam konteks zaman,” ujar Achmad.

Menurutnya, tantangan NU ke depan semakin kompleks. Perubahan teknologi, ekonomi digital, perkembangan geopolitik, perubahan sosial, hingga dinamika kebangsaan membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memiliki militansi, tetapi juga kompetensi.

Karena itu, ia mendorong agar mahasiswa NU terus memperkuat kapasitas intelektual, profesionalitas, kepemimpinan, dan keberpihakan sosial.

“Kami ingin BEM PTNU menjadi ruang kaderisasi yang melahirkan mahasiswa NU yang siap masuk ke ruang-ruang strategis. Tetapi sebelum berbicara tentang menguasai ruang strategis, kita harus belajar satu hal: bagaimana memberikan manfaat,” katanya.

“Silakan Datang, Ini Rumah Kita Bersama”

Achmad mengajak seluruh muktamirin untuk memanfaatkan posko khidmah BEM PTNU tanpa merasa sungkan.

“Silakan datang. Istirahat, makan, minum, dan silaturahmi. Jangan merasa sungkan. Ini bukan milik BEM PTNU, ini bagian dari ikhtiar kita bersama untuk NU,” ujarnya.

Ia berharap gerakan tersebut menjadi contoh kecil bahwa mahasiswa dapat hadir dengan cara yang konstruktif dalam setiap momentum besar NU.

“Kami tidak ingin sekadar mengatakan bahwa mahasiswa NU siap berkhidmah. Kami ingin menunjukkannya melalui tindakan,” pungkasnya.

Muktamar NU ke-35 pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang terpilih dan apa yang diputuskan. Ia juga tentang bagaimana seluruh elemen Nahdliyin menjaga satu hal yang menjadi kekuatan NU sejak awal: persaudaraan dan tradisi khidmah.

Dan di antara riuhnya perdebatan tentang masa depan NU, BEM PTNU memilih menyampaikan pesannya dengan cara sederhana:

hadir, membantu, dan memberi manfaat.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *