Dari Manuskrip ke Magnet Wisata: KH Fajar Ingin Patambaan Siliwangi Mendunia

Berita Utama24 Dilihat

SUKABUMI — Upaya mengangkat naskah kuno Patambaan Siliwangi memasuki babak baru. Pimpinan Pondok Pesantren Al-Fath, KH M. Fajar Laksana, menegaskan hasil kajian ilmiah tidak boleh berhenti di ruang seminar, tetapi harus berlanjut pada pengakuan resmi dan pemanfaatan nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, manuskrip tersebut menyimpan sistem pengetahuan pengobatan tradisional berbasis tanaman herbal yang diwariskan secara turun-temurun dan masih relevan hingga kini.

“Ini bukan sekadar dokumen lama, melainkan sistem pengetahuan hidup yang pernah dipraktikkan dan manfaatnya masih bisa dirasakan sampai hari ini,” ujar KH Fajar saat ditemui di Aula Syekh Quro, Rabu (15/4).

Dari hasil pembacaan naskah, ditemukan puluhan jenis tanaman yang digunakan sebagai bahan pengobatan. Meski berangkat dari pengalaman empiris, informasi tersebut dinilai menjadi pintu masuk penting bagi pengembangan riset kesehatan tradisional berbasis pendekatan modern.

KH Fajar menilai, langkah strategis berikutnya adalah mendorong Patambaan Siliwangi diakui sebagai warisan budaya tak benda, sementara naskahnya ditetapkan sebagai benda cagar budaya.

“Ketika sudah ada pengakuan negara, kekuatannya akan berbeda. Lebih mudah dipromosikan, dikembangkan, dan memiliki nilai ekonomi,” tegasnya.

Ia juga menyoroti potensi ekonomi yang dapat tumbuh jika warisan budaya tersebut dikelola secara serius. Sektor pariwisata berbasis budaya, kata dia, berpeluang menjadi motor penggerak baru bagi Kota Sukabumi.

“Orang datang bukan hanya untuk melihat naskah, tetapi juga belajar, meneliti, bahkan mencoba praktik pengobatannya. Ini bisa menghidupkan ekonomi lokal,” ujarnya.

Penguatan sektor budaya, lanjutnya, menjadi kunci di tengah dorongan menjadikan Sukabumi sebagai kota jasa, perdagangan, sekaligus destinasi wisata.

“Tanpa produk budaya yang kuat, akan sulit menarik wisatawan. Patambaan bisa menjadi salah satu jawabannya,” kata dia.

Lebih jauh, KH Fajar mengungkapkan praktik pengobatan herbal yang selama ini ia jalankan memiliki kesesuaian dengan isi naskah yang telah diterjemahkan para ahli.

“Saya belajar dari keluarga dan praktik langsung. Setelah diteliti, ternyata ramuannya sama. Ini menunjukkan adanya kesinambungan pengetahuan, bukan kebetulan,” ungkapnya.

Kajian terhadap naskah tersebut merupakan bagian dari penelitian yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang sebelumnya menginventarisasi puluhan manuskrip kuno di Museum Prabu Siliwangi.

Dari total 29 naskah yang diteliti, tema pengobatan tradisional menjadi salah satu fokus utama karena dinilai memiliki relevansi tinggi dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Sementara itu, peneliti filologi dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta, Ilham Nurwansah, menjelaskan bahwa patambaan merupakan dokumentasi pengetahuan masyarakat masa lalu yang ditulis berdasarkan pengalaman empiris.

“Di dalamnya terdapat resep herbal, metode pengolahan, hingga manfaatnya. Ini adalah kumpulan pengetahuan yang diwariskan dalam bentuk tulisan,” jelasnya.

Ia menambahkan, naskah tersebut tidak hanya membahas pengobatan, tetapi juga memuat aspek lain seperti perhitungan hari, waktu, hingga unsur perbintangan yang mencerminkan kompleksitas pengetahuan masyarakat pada masanya.

Dengan kajian yang terus berkembang, Patambaan Siliwangi dinilai memiliki peluang besar untuk tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diangkat sebagai identitas budaya yang mampu memperkuat posisi Sukabumi di tingkat nasional.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *