Disdik Jabar Tertutup Informasi Masalah Perbaikan Gedung

Sorot156 Dilihat

BANDUNG | reaksinusantaranews.com – Beberapa bulan ini, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sibuk bebenah dan memperindah kantor biar terlihat lebih nyaman dan menarik. Tapi niat baik ini tidak diiringi dengan keterbukaan kepada insan pers dan publik.

Hal itu terbukti disetiap titik pekerjaan rehab yang ada di sekitar gedung tidak ada satupun papan nama proyek. Padahal papan nama proyek merupakan bukti transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran publik, sesuai dengan UU Nomor 14 Tahun 2008 dan Pepres No 70 Tahun 2012.

Pada tanggal 29/10/2025 reaksinusantaranews.com sempat menanyakan pekerjaan yang ada disekitaran gedung Disdik Jabar pada salah seorang pengusaha yang sering mengerjakan kegiatan. Saat ditanya dia tidak mau memberikan penjelasan. “Silahkan untuk konfirmasi masalah itu langsung saja ke pejabat yang berwenang,” katanya.

Sementara Kasubag Tata Usaha dan Sekretariat Suharyono Adhi Saswito, Dinas Pendidikan beberapa kali hendak dikonfirmasi sulit ditemui. Demikian juga dengan bendahara kegiatan Arip Rahman pun sulit untuk ditemui. Menurut security, Arip sedang dinas luar. Dirinya tidak mengetahui tugas kemana.

Berdasarkan pantauan ada beberapa paket kegiatan dianggaran perubahan yang sudah mulai dikerjakan, seperti pergantian kanopi di depan Aula Kihajar Dewantara, rehab ruangan bunda PAUD dan perbaikan box kontrol saluran air lingkungan kantor.

Pada saat reaksinusantaranews.com mengecek di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE ) Jabar anggaran yang dimaksud tidak ditemukan atau belum ditayangkan di Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP). Selain itu tidak dipasangnya papan nama proyek pada seluruh kegiatan bukti transparansi pengelolaan anggaran hal ini semakin memperkuat dugaan sistem ijon dilingkungan kantor dinas pendidikan ini, sebagaimana dilansir sebuah medis online:

Menurut salah seorang pengusaha yang baru terjun didunia pekerjaan kegiatan yang ada di Disdik Jabar mengatakan bahwa kegiatan yang ada di sini sebenarnya susah sekali untuk didapat, sebab mereka sudah punya pengusaha kukutan bahkan di sini ada istilah “sistem ijon“. “Jadi kita sebagai pengusaha baru sangat susah untuk bersaing dan berkembang,” katanya.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *