Mahasiswa Sukabumi Tuntut 6 Poin Reformasi Lapas Warungkiara

Sorot146 Dilihat

SUKABUMI | Aksi unjuk rasa mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Sukabumi (GRASI) digelar di depan gerbang Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Warungkiara, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Senin (15/12/2025).

Aksi tersebut bertujuan menyampaikan enam tuntutan terkait dugaan persoalan di lingkungan Lapas Warungkiara. Dalam orasinya, Koordinator Aksi GRASI, Sandi, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masa depan bangsa dan generasi Indonesia.

“Semoga narasi yang kami sampaikan melalui aksi GRASI ini dapat diterima. Kami peduli terhadap bangsa Indonesia dan generasi penerus untuk mewujudkan Indonesia Emas 2025,” ujar Sandi.

Ia menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan merupakan hak mahasiswa yang dilindungi undang-undang. Menurutnya, aksi tersebut berjalan dengan tertib dan bertujuan mendorong perbaikan sistem di lembaga pemasyarakatan.

“Alhamdulillah aspirasi kami telah tersampaikan. Intinya kami menyuarakan hak kami sebagai warga negara yang dijamin oleh undang-undang,” katanya.

Sandi juga menekankan bahwa mahasiswa pada dasarnya mendukung keberadaan Lapas sebagai institusi negara, namun menolak segala bentuk penyimpangan yang terjadi di dalamnya.

“Kami semua menyayangi Lapas. Hal-hal buruk harus dijauhkan, dan jika ada pelanggaran maka harus ditindak tegas,” lanjutnya.

Dalam aksi tersebut, GRASI menyampaikan enam tuntutan utama, yakni mencopot Kepala Lapas Warungkiara, mengusut tuntas dugaan pelarangan dan peredaran barang terlarang, melakukan audit menyeluruh terkait peredaran telepon genggam di dalam lapas, menghukum pejabat yang terlibat, memecat aparatur sipil negara (ASN) yang terbukti terlibat, serta memindahkan warga binaan yang berkaitan dengan kasus tersebut.

“Kami menuntut pertanggungjawaban yang jelas. Yang paling utama, kami meminta pencopotan Kepala Lapas,” tegas Sandi.

Ia menambahkan bahwa aksi ini bukan yang terakhir. GRASI berencana kembali menggelar aksi lanjutan dengan kajian dan bukti yang lebih kuat.

“Kami akan kembali ke sini dengan kajian dan bukti yang lebih matang. Demi keadilan, kami tetap turun ke jalan meski dalam kondisi hujan deras,” pungkasnya.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *