BEM PTNU: TERIMA HASIL MUKTAMAR DENGAN BANGGA, KAWAL DENGAN KRITIK, JANGAN RAWAT PERPECAHAN

Daerah, Sorot38 Dilihat

Kuala Lumpur — Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang, telah selesai. Kompetisi telah berakhir, keputusan telah diambil, dan kini saatnya seluruh warga Nahdliyin menunjukkan kelasnya sebagai organisasi yang matang secara demokrasi dan dewasa dalam menghadapi perbedaan.

Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara Saudara Achmad Baha’ur Rifqi, menyerukan kepada seluruh warga Nahdliyin untuk menerima hasil Muktamar dengan bangga dan sikap negarawan.

Jangan sampai setelah palu Muktamar diketuk, pertarungan justru dipindahkan ke media sosial, ruang publik, dan percakapan antar-Nahdliyin.

Muktamar bukan arena untuk melahirkan musuh baru. Muktamar adalah mekanisme organisasi untuk menemukan kepemimpinan dan arah perjuangan NU.

Karena itu, siapa pun yang menang harus mampu merangkul. Siapa pun yang berbeda pilihan harus mampu menerima. Dan siapa pun yang merasa memiliki kritik harus menyampaikannya dengan cara yang bermartabat.

“Jangan karena kalah pilihan kemudian merasa NU telah salah arah. Jangan pula karena menang kemudian merasa paling berhak menentukan siapa yang paling NU. NU jauh lebih besar daripada kepentingan kontestasi sesaat.”

BEM PTNU menilai, mempertahankan polarisasi setelah Muktamar selesai hanya akan menguras energi Nahdliyin dan menjauhkan NU dari agenda besarnya.

Kita tidak boleh membiarkan NU menjadi korban dari ego orang-orang yang tidak selesai dengan hasil kontestasi.

Perbedaan pilihan adalah hal biasa. Tetapi menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk mencaci, merendahkan, menuduh, atau terus-menerus membangun narasi permusuhan adalah persoalan lain. Apalagi yang di hina adalah para ulama.

NU memiliki tradisi keilmuan, pesantren, tawadhu, tabayun, dan adab. Maka jangan mengaku sedang membela NU jika cara yang digunakan justru merusak persaudaraan sesama Nahdliyin.

Kritik tetap penting. Bahkan kepemimpinan NU harus dikawal agar berjalan sesuai mandat organisasi dan kebutuhan umat. Tetapi kritik harus menjadi instrumen perbaikan, bukan senjata untuk melampiaskan kekecewaan politik.

Beda pilihan boleh. Beda pandangan boleh. Kritik wajib ketika diperlukan. Tetapi memusuhi sesama Nahdliyin tidak boleh menjadi budaya baru di NU.

Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara juga mengingatkan seluruh generasi muda NU agar tidak terseret menjadi pasukan fanatisme personal.

Jangan wariskan kepada kader muda NU budaya “siapa kawan dan siapa lawan”. Wariskan tradisi “apa gagasannya dan apa manfaatnya bagi umat”.

Sebab tantangan NU ke depan jauh lebih besar daripada sekadar siapa yang menang dalam sebuah forum.

Pendidikan pesantren harus diperkuat. Ekonomi umat harus dibangun. Profesionalisasi organisasi harus diperluas. Kader muda harus diberi ruang. Dan NU harus semakin hadir menjawab persoalan kebangsaan.

Untuk itu, energi Nahdliyin harus dikembalikan kepada khidmah, bukan konflik.

“Kami mengajak seluruh Nahdliyin untuk menutup buku kontestasi dan membuka lembaran khidmah. Terima hasil Muktamar dengan bangga. Hormati keputusan organisasi. Kawal dengan kritis. Tetapi jangan kehilangan adab dan persaudaraan.”

BEM PTNU Se-Nusantara menegaskan bahwa NU bukan milik kubu pemenang, bukan pula milik mereka yang kalah. NU adalah rumah besar seluruh Nahdliyin.

Maka setelah Muktamar ke-35, saatnya berhenti menghitung siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Yang harus dihitung adalah berapa banyak persoalan umat yang bisa diselesaikan.

Yang harus diperebutkan bukan lagi kursi, tetapi kontribusi.

Yang harus dibesarkan bukan ego kelompok, tetapi NU.

Muktamar sudah selesai. Jangan wariskan dendam. Jangan pelihara kubu-kubuan. Jangan rusak persaudaraan hanya karena perbedaan pilihan.

Kini waktunya seluruh Nahdliyin berdiri bersama: menerima dengan bangga, mengawal dengan kritis, dan berkhidmah dengan sikap negarawan.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *