Rumah Nyaris Roboh, Nanang Bertahan di Tengah Janji Bantuan yang Tak Kunjung Datang

Sorot52 Dilihat

CIANJUR — Di tengah gencarnya program bantuan untuk masyarakat kurang mampu, realitas di lapangan kembali menunjukkan potret berbeda. Seorang warga Kampung Cisaat, RT 01/08, Desa Sabandar, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Nanang (45), harus bertahan hidup di rumah yang jauh dari kata layak, bahkan mengancam keselamatan keluarganya.

Rumah yang ditempati Nanang bersama istri dan anak-anaknya kini dalam kondisi memprihatinkan. Atap bocor di hampir seluruh bagian, dinding mulai rapuh, dan struktur bangunan kian melemah. Alih-alih menjadi tempat berlindung, rumah tersebut justru berubah menjadi sumber kekhawatiran.

Memasuki musim penghujan, kondisi semakin memburuk. Air tidak lagi sekadar menetes dari atap, tetapi masuk dari berbagai celah dan menggenangi bagian dalam rumah. Situasi ini memaksa keluarga Nanang bertahan dalam kondisi yang seharusnya tidak layak dihuni.

Saat ditemui pada Minggu (12/4/2026), Nanang menyampaikan keluhannya dengan nada lirih.

“Ya gimana Pak, kondisi begini. Makan saja kadang kurang layak. Rumah juga bocor di mana-mana. Katanya ada bantuan, tapi sampai sekarang belum terasa. Jawabannya selalu soal rezeki saja,” ujarnya.

Menurut Nanang, kerusakan rumah sudah terjadi sejak lama. Namun karena keterbatasan ekonomi, ia tidak mampu melakukan perbaikan. Seiring waktu, kondisi bangunan semakin parah dan kini berada di ambang keruntuhan.

“Kalau hujan, pasti bocor semua. Sudah tidak bisa diperbaiki sendiri. Takutnya malah roboh,” katanya.

Selain persoalan fisik bangunan, kondisi ini juga berdampak pada psikologis keluarga. Tinggal di rumah yang sewaktu-waktu bisa roboh menimbulkan kecemasan, terlebih bagi anak-anaknya yang masih kecil. Nanang diketahui memiliki seorang anak yang duduk di bangku kelas 1 SMP serta seorang balita berusia 3 tahun.

Harapan Nanang sebenarnya sederhana. Ia hanya ingin ada perhatian nyata dari pemerintah, khususnya melalui program perbaikan rumah tidak layak huni.

“Harapannya ada yang melihat langsung kondisi kami. Jangan hanya yang mampu saja yang dibangun. Kami yang benar-benar butuh justru seperti tidak terlihat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sabandar, Dedi Saepudin, saat dikonfirmasi menyebutkan bahwa bantuan untuk Nanang masih dalam proses pengajuan.

“Belum ada bantuannya, sedang diperjuangkan,” ujarnya singkat.

Namun, pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Di saat kondisi rumah sudah berada di titik kritis, lamanya proses pengajuan dinilai berpotensi mengancam keselamatan penghuni.

Kisah Nanang menjadi gambaran nyata kesenjangan antara program yang direncanakan dan kondisi yang dihadapi masyarakat. Di satu sisi, bantuan sosial terus digaungkan. Di sisi lain, masih ada warga yang bertahan dalam kondisi tidak layak huni dan menunggu kepastian yang belum jelas.

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bukan hanya soal keterlambatan bantuan, tetapi juga menyangkut risiko keselamatan jiwa. Terlebih saat hujan deras dan angin kencang, ancaman robohnya bangunan menjadi semakin nyata.

Bagi Nanang dan keluarganya, rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah satu-satunya tempat berlindung. Namun ketika tempat itu tak lagi mampu memberikan rasa aman, harapan akan bantuan menjadi satu-satunya yang tersisa.

Kini, mereka hanya bisa menunggu—berharap bantuan yang selama ini dijanjikan benar-benar hadir, sebelum risiko yang lebih besar terjadi.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *