Bertahan Hidup di Balik Pos Ronda, Kisah Atak Kusmayadi di Tengah Keterbatasan

Sorot108 Dilihat

CIANJUR — Di balik sebuah pos ronda di Kampung Bobojong, Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, terdapat ruang sempit berukuran sekitar 2×2 meter yang menjadi tempat Atak Kusmayadi (59) berteduh.

Hampir dua tahun, ruang sederhana itu menjadi tempat Atak menjalani hari-harinya. Tak ada kamar layak sebagaimana rumah pada umumnya. Hanya selembar tikar lusuh yang menjadi alas tidur, beberapa piring dan gelas, serta dinding yang ditutup menggunakan bekas baliho.

Bagian depan bangunan dibiarkan terbuka. Dari tempat sederhana itulah Atak berusaha bertahan hidup seorang diri.

“Saya sudah hampir dua tahun tinggal di belakang pos ronda. Alhamdulillah, ada warga yang memberikan lahan ini untuk sementara waktu sebagai tempat saya berteduh,” ujar Atak.

Keputusan tinggal di tempat tersebut bukan tanpa alasan. Keterbatasan ekonomi membuat Atak tidak mampu menyewa rumah. Di sisi lain, ia memilih bertahan sendiri karena tidak ingin membebani keluarganya.

Di usianya yang menginjak 59 tahun, kondisi fisik yang kerap sakit membuat Atak tak lagi mampu melakukan pekerjaan berat. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia hanya mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.

Hari-harinya pun dijalani dengan sederhana. Ketika ada pekerjaan, ia bekerja. Ketika tidak ada pekerjaan, ia harus bertahan dengan apa yang dimiliki.

Tempat tinggal yang jauh dari kata layak tersebut menjadi gambaran bagaimana keterbatasan ekonomi membuat seseorang harus bertahan dengan kondisi seadanya.

Meski demikian, Atak mengaku bersyukur masih ada warga yang memberikan tempat untuknya berteduh. Dukungan sederhana dari lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupannya.

Kisah Atak bukan sekadar tentang sebuah ruang sempit di belakang pos ronda. Di sana ada perjuangan seorang warga lanjut usia yang tetap berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya meski pekerjaan, kesehatan, dan tempat tinggal menjadi persoalan yang harus dihadapi setiap hari.

Kini, Atak hanya berharap dapat menjalani hidup dengan lebih baik dan memiliki tempat tinggal yang lebih layak untuk berteduh.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *