Kemarau Belum Usai, Kolaborasi Hijau Garut Rela Bolak-Balik Bawa Ember Demi Menyelamatkan Tanaman

Daerah17 Dilihat

GARUT — Musim kemarau yang belum juga berakhir membuat tanaman penghijauan di sejumlah titik membutuhkan perhatian ekstra. Kondisi itu terlihat di Bukit Cintakembar, Kampung Cintakembar, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut.

Di tengah keterbatasan sumber air dan medan yang sulit dijangkau, Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut kembali turun ke lapangan untuk merawat tanaman yang sebelumnya ditanam beberapa bulan lalu.

Melalui Aksi ke-104 Kolaborasi Hijau, Sabtu (26/9/2026), tim melakukan penyiraman, pemeliharaan sekaligus geotagging terhadap titik-titik tanaman yang ditanam pada April 2026.

Bagi Kolaborasi Hijau, penghijauan tidak berhenti ketika bibit ditanam. Justru, tantangan sebenarnya dimulai setelah penanaman, ketika tanaman harus bertahan menghadapi panas, kekeringan, keterbatasan air, dan kondisi medan.

Penyiraman di lokasi dilakukan menggunakan mesin. Namun, kontur Bukit Cintakembar membuat aliran air belum mampu menjangkau seluruh titik tanaman. Ratusan tanaman masih berada di luar jangkauan selang.

Kondisi tersebut membuat tim harus melakukan cara manual. Ember demi ember air diangkut dari titik sumber menuju tanaman yang belum tersiram.

Mereka rela bolak-balik membawa air meski pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak. Keterbatasan sarana tidak menjadi alasan untuk menghentikan pemeliharaan.

Di tengah teriknya kemarau dan medan yang cukup menantang, air diberikan secara bertahap kepada tanaman yang membutuhkan. Upaya sederhana itu menjadi bagian penting untuk mempertahankan tanaman yang sebelumnya ditanam bersama.

Ketua Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, H. Jaeni, turut turun langsung dalam kegiatan pemeliharaan tersebut.

Keterlibatan pengurus di lapangan menjadi bagian dari komitmen Kolaborasi Hijau untuk memastikan kegiatan penghijauan tidak berhenti pada seremoni penanaman maupun dokumentasi.

Bagi mereka, keberhasilan penghijauan tidak semata-mata diukur dari jumlah bibit yang ditanam. Tanaman harus dirawat, dipantau, dan dijaga agar dapat tumbuh serta memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.

Sekretaris Paguyuban Kolaborasi Hijau Garut, Cepi Gantina, juga terlibat dalam rangkaian pemeliharaan dan pendataan di lapangan, termasuk melakukan geotagging terhadap titik-titik tanaman.

Geotagging dilakukan untuk mendokumentasikan lokasi tanaman secara lebih terukur. Data tersebut dapat menjadi bagian dari sistem pemantauan sehingga keberadaan dan kondisi tanaman dapat ditelusuri kembali dalam kegiatan pemeliharaan berikutnya.

Dengan pendataan tersebut, kegiatan penghijauan tidak hanya meninggalkan dokumentasi berupa foto, tetapi juga membangun data lokasi yang dapat dimanfaatkan untuk monitoring, penyulaman, dan evaluasi.

Di lapangan, tim juga menemukan sejumlah tanaman yang mati akibat kekeringan.

Tanaman yang mati nantinya akan disulam dengan tanaman pengganti agar titik-titik tanam yang kehilangan tanaman dapat kembali dipulihkan.

Kondisi di Bukit Cintakembar menunjukkan bahwa tantangan penghijauan tidak selalu berada pada tahap penanaman. Setelah bibit masuk ke tanah, tanggung jawab justru berlanjut.

Saat hujan belum turun secara cukup, air harus dicari dan diangkut. Tanaman harus dipantau. Tanaman yang mati harus diganti. Titik-titik tanam harus kembali diperiksa.

Aksi ke-104 Kolaborasi Hijau menjadi pengingat bahwa penghijauan bukan sekadar menanam pohon, melainkan membangun tanggung jawab untuk merawat kehidupan yang telah ditanam.

Dari Bukit Cintakembar, semangat itu kembali ditegaskan:

Tanam. Rawat. Jaga.

Sebab, satu pohon yang berhasil hidup dan tumbuh merupakan bagian dari keberlanjutan penghijauan yang tidak bisa hanya diukur dari jumlah bibit yang pernah ditanam.

Dari tanam menjadi tumbuh, dari aksi menjadi tradisi.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *